Minggu, 09 Februari 2014

Nina dan Nenek Siti

Nina dan Nenek Siti
      
        Suatu siang, Nina sedang berjalan-jalan di taman kota. Ia membawa uang sebanyak Rp5000. Matahari bersinar cerah. Nina mulai kelelahan dan berkeringat. Ia duduk di bangku yang ada di taman kota. Sesekali ia melihat jam tangan. "Fyuh, masih jam 9, tapi panasnya, huh" kata Nina sambil mengusap keningnya. Ia melihat seorang pedagang es potong. "Es potong, es potongnya dik! Ayo, seger! Seger! Murah, murah murah!" teriak sang pedagang dengan lantang. Nina tertarik karena kesegaran es potong itu. "Pak! Es potong, pak!" teriak Nina. "Oh ya dik," kata pedagang es potong itu sembari menghampiri Nina dengan sepeda onthelnya. "Beli es potong rasa ketan hitam 2 potong, Pak." ujar Nina kepada sang bapak pedagang. "Oh ya dik," kata pedagang mengiyakan. "Dik, ngomong-ngomong nama adik siapa ya?" tanya pedagang es potong itu sambil membuatkan es potong yang Nina pesan. "Nina, pak" jawab Nina lembut. "Nama bapak siapa ya?" tanya Nina. "Nama saya Ahmad. Panggil saja bang Mamat" jawab bang Mamat sambil membungkus pesanan es potong Nina. 
     
        "Nah, ini Dik Nina es potongnya, semuanya Rp2000" ucap bang Mamat sambil memberikan es potong pesanan Nina. "Terima kasih bang Mamat," kata Nina sambil mengambil es potong pesannya dan memberikan uangnya. "Nah ini kembaliannya," kata bang Mamat sambil memberikan kembalian kepada Nina. "Kapan-kapan beli lagi ya, Dik!" teriak bang Mamat kepada Nina yang makin menjauh. "Ya, bang!" balas Nina. Nina kemudian pergi kembali ke rumahnya sembari menikmati es potongnya. Ditengah perjalanan menuju rumahnya, ia menemukan seorang wanita tua renta akan meyeberang menuju taman kota. Nina berlari menghampiri sang nenek yang akan menyeberang itu. "Ayo, Nek. Nina bantu menyeberang" kata Nina sambil menyeberangkan sang nenek. Setelah sampai di taman kota, nenek itu mengucapkan terima kasih pada Nina karena telah menyeberangkannya. "Terima kasih, cu.. " ucap nenek itu. "Sama-sama nek, tapi nama nenek siapa ya?" tanya Nina kepada sang nenek tua renta itu. Nenek itu tak menjawab karena tak mendengar pertanyaan Nina. Namun ada suara aneh seperti berbisik kepada Nina. "Nama nenek itu adalah Siti..." ujar suara aneh itu. "Siti?" pikir Nina di hatinya. Ia pun berjalan kembali ke rumahnya.
   
       "Aku pulang!" kata Nina sambil membuka pintu rumahnya. "Oh, Nina sudah pulang," kata ibunya sambil menghampiri Nina. Nina memeluk ibunya. Kemudian Nina menceritakan pengalamannya tadi. Ia bercerita panjang lebar. "Ayo, tidur Nina," kata ibu sambil menunjuk ke arah jam dinding. "Oaahmm.." Nina menguap. Nia beranjak ke tempat tidurnya. Setelah ia tidur lelap, ia bermimpi bertemu Nenek Siti. "Hai, Nina. Terimakasih atas perbuatan baikmu. Tapi, nenek harus mengucapkan selamat tinggal untuk selamanya" tutur Nenek Siti pada Nina. Setelah terbangun, Nina berpikir buruk. Ia menengok keluar dan melihat tulisan 'Turut Berduka Cita, atas kematian Siti Marsiti'. Ia tak percaya, ia menghampiri kerumunan orang disana. Dan betapa terkejutnya Nina, Nenek Siti telah meninggalkan Nina untuk selama-lamanya. Nina menangis tersedu-sedu. Nina mengikuti jasad Nenek Siti sampai ke kuburan. Ia  mendoakan Nenek Siti. Sejak saat itu dia menolong banyak manula.
     

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Mmm.. komentari setiap artikel ini dengan memperhatikan kata-kata yang akan Anda lontarkan, ya.. :D